Recent Posts

Archives

Topics

Meta

Ketua Geng Cewek Masih Berusia 17 Tahun

By eddyprasetyo | June 24, 2008

KEDIRI,Geng pelajar cewek yang berbuat kriminal ternyata tak hanya Geng Nero di Pati, Jawa Tengah. Di Kota Kediri, geng serupa juga ada dan berhasil diringkus polisi. Bahkan, jika Geng Nero hanya melakukan aksi kekerasan terhadap sesama pelajar, geng cewek di Kediri ini lebih dari itu.

Mereka melakukan pencurian dengan sasaran swalayan dan pusat perbelanjaan.
Ketika melakukan aksinya di salah satu toko di Doho Plasa, Kota Kediri, Minggu (22/6) siang, geng yang terdiri dari tiga cewek SMA dan SMP itu kena batunya. Pada pukul 11.00 WIB, satpam di Doho Plasa mulai mengawasi ketiga cewek tersebut saat gerak-gerik mereka saat berbelanja mencurigakan.

Setelah terlihat mencuri beberapa barang, satpam langsung menangkap mereka dan dibawa ke markas Polresta Kediri. Dari keterangan mereka di Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polresta Kediri terungkap bahwa geng cewek itu dipimpin oleh Irianovi (17), siswi kelas II sebuah SMA di Kota Kediri.

nggotanya terdiri dari Dimavini Aprilia (15) dan Mia Harmiati (15), keduanya masih duduk di kelas III SMP.

Mereka berasal dari kecamatan yang sama, yakni Kecamatan Gampengrejo, Kabupaten Kediri. Namun, Irianovi dan Dimavini berasal dari Desa Dlopo, sedangkan Mia dari Desa Tepus. Saat diperiksa polisi, mereka mengaku telah mencuri puluhan jenis barang, di antaranya cincin, alat-alat kosmetik, pakaian dalam, jaket, makanan ringan, baterei, minyak telon, tape recorder kecil, dan lain-lain. Barang-barang curian itu diselipkan di dalam pakaian dan tas mereka. Nilainya mencapai Rp 500.000.

Kepada polisi, Irianovi mengaku dirinyalah yang mengajari teknik mencuri kepada Mia dan Dimavini. Dengan berlagak seperti pembeli, ketiganya selalu bersama-sama saat melakukan aksinya di sejumlah toko, swalayan, dan plasa.

Setelah menemukan benda yang diincar, ketiganya membagi tugas, ada yang sebagai pengawas situasi dan ada yang pengambil barang. “Setiap berhasil mengambil barang, langsung dimasukkan ke dalam pakaian atau tas longgar yang kami bawa,” tutur Irianovi di Mapolresta sambil terus menutupi wajahnya dari kamera.

Dari pengakuan ketiganya, sedikitnya sudah tiga toko yang mereka jarah, di antaranya toko busana Mentari dan Swalayan Borobudur yang terletak di Jalan Doho, Kota Kediri, serta sebuah toko di pusat perbelanjaan Doho Plasa. “Sudah lama kami melakukan perbuatan ini,” kata Irianovi. Menurut dia, hasil kejahatan gengnya itu tidak dijual kepada orang lain, tapi digunakan sendiri.

Ketiga anggota geng cewek itu saling kenal karena hubungan tetangga. Kendati berbeda tempat tinggal, namun desa mereka saling berdekatan satu sama lain.
Penangkapan geng cewek ini membuat keluarga mereka kaget. Nurcholifah (bibi Dimavini) mengaku tidak percaya keponakannya melakukan aksi kriminal.

Selama ini, tutur Nurcholifah, Dimavini dikenal tak banyak ulah dan anak penurut. Ia menduga ulah Dimavini akibat pengaruh Irianovi yang memang nakal. “Keponakan saya mulai aneh-aneh setelah bergaul dengan Novi. Dia anak kos yang tidak pernah mendapat perhatian orangtuanya,” ujarnya.

Kepala Urusan Pembinaan Operasional Satreskrim Polresta Kediri Iptu MS Yusuf mengemukakan, para pelaku dapat dikenai ancaman hukuman 5 tahun penjara karena melanggar Pasal 363 KUH Pidana. (ais)

Sumber : Kompas Online

Topics: Geng Cewek, Kriminal, News, Pelajar, berita | 2 Comments »

Gasing yang Berpusing

By eddyprasetyo | June 23, 2008

Menyaksikan orang-orang bermain gasing di acara ujipetik gasing yang diadakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 7-9 Desember lalu, saya terkenang dengan pemain gasing asal Pontianak bernama Pak Taufik (59) yang saya jumpai di kota Khatulistiwa itu pada pertengahan tahun 2007.

Elok nian gerak Taufik dalam bermain gasing. Sambil melompat tinggi-tinggi, disertai pekikan mirip jago silat, dilemparkannya gasing ke tanah. Dan,.. wus wus..gasing pun berpusing cepat dan gagah, serupa bumi yang berpusar pada porosnya.

Gasing yang berputar cepat, dan lagak Taufik yang memainkannya, kesannya memang seperti sedang menantang pemain gasing lainnya untuk beradu di arena.

Benar saja, tak lama kemudian, seorang pemain gasing lainnya seperti disulut emosinya untuk meladeni tantangan Taufik. Lalu…buk! Sekali pukul, gasing lawan itu pun langsung menukik pada kepala gasing Taufik, sekalian membungkam kekeh Taufik yang semula berlagak jumawa.

Sayang, pada acara ujipetik kali ini Pak Taufik tak datang ke Jakarta untuk beraksi kembali. Tapi saya beruntung, masih bisa menyaksikan beberapa jagoan gasing dari berbagai daerah untuk mengikuti ujipetik.

Cara bermain mereka ada yang seperti Pak Taufik, ada yang memindahkan gasing yang sedang berputar dari satu tempat ke tempat lainnya seperti yang dilakukan peserta dari Kepulauan Natuna, ada pula yang mengangkat gasingnya dan meletakkannya di tangan.

Usai masing-masing utusan melakukan semacam pameran bermain gasing secara individual, selanjutnya para utusan itu dipersilakan main gasing per daerah yang diwakili.

Kontingen dari Batam maju. Mereka menampilkan dua pemain dan satu wasit. Sebelum mereka bermain, wasit memberikan maklumat aturan main yang harus dipatuhi kedua pemain.

Misalnya, pemasang (orang yang kalah dalam undian pada awal permainan–undian biasanya dilakukan dengan koin–), menjadi orang yang pertama bermain dan siap menerima pukulan. Atau, apabila gasing pemasang berhasil dimatikan putarannya oleh pemukul, maka pemukul mendapat poin 2 (dua), dan seterusnya.

Pertandingan pun dimulai. Pemasang memainkan gasingnya tepat di tengah arena yang sudah diberi lingkaran. Sesaat kemudian, pemukul bersiaga menghantamkan gasingnya pada gasing pemasang.

Rupanya gasing pemasang cukup tangguh. Kendati terkena pukulan, ia masih tetap berputar. Bahkan, setelah dipindahkan ke lingkaran lain untuk adu ketahanan lama berputar, justru gasing pemasang yang lebih lama berputar. Maka jadilah gasing pemasang mendapat nilai satu dan beroleh kesempatan jadi pemukul.

Silih ganti permainan berlanjut. Hingga salah satu di antara keduanya mengumpulkan 10 poin untuk mendapatkan kemenangan.

Gasing adalah permainan rakyat

Pakar folklor Dr. James Danandjaya, MA menengarai bahwa gasing termasuk ke dalam Folklor Sebagian Lisan. Artinya, gasing adalah folklor yang bentuknya merupakan campuran unsur lisan dan unsur bukan lisan.

Kepercayaan rakyat, misalnya, yang oleh orang modern seringkali disebut tahayul itu, terdiri dari pernyataan yang bersifat lisan, ditambah dengan gerak isyarat, yang dianggap mempunyai makna gaib, seperti tanda salib bagi orang Kristen Katolik Roma, yang dianggap dapat melindungi seseorang dari gangguan roh jahat, dan ditambah lagi dengan benda material yang dianggap dapat menangkal pengaruh jahat, atau membawa rezeki, seperti batu-batu permata tertentu. Bentuk folklor ini misalnya, permainan rakyat (gasing, congklak, dan lain-lain), teater rakyat, tari rakyat, adat istiadat, upacara, pesta dan lain-lain.

James menambahkan, Gasing adalah sejenis permainan rakyat yang ada di banyak negara, seperti antara lain di Eropa, Amerika dan Asia Tenggara. Di Eropa dan Amerika disebut top. Di Filipina pada suku bangsa Tagalok disebut turumpo (Lopes, 1980: 236-241). Di Jawa Timur disebut gasing.

Penyebutan ini di Indonesia juga beragam. Di Sulawesi Utara dalam bahasa Bolaang Mongondow disebut Paki, bahasa Sangir menyebut Kasing, bahasa Talaud menyebutnya Asing. Di Jawa sebagain menyebut panggal.

Gasing terbuat dari berbagai bahan. Namun paling dominan adalah terbuat dari kayu. Di Tanjungpinang, pembuat gasing biasanya menggunakan kayu pelawan punai, pelawan tanduk, gemeris, tiampan, mentigi. Di Jawa biasanya menggunakan kayu waru, jambu biji.

Cara memainkan gasing umumnya menggunakan tali yang dililitkan di badan gasing sebelum dilemparkan ke tanah. Kini anak-anak di wilayah perkotaan mengenal gasing impor (dari China dan Jepang) yang disebut baylade yang menggunakan bahan baku dari plastik.

Gasing umumnya memiliki empat bentuk. Yakni, bentuk jantung, bentuk piring, bentuk buah perembang dan bentuk guci.

Meski masing-masing daerah memiliki ciri sendiri-sendiri dalam permainan ini, namun intinya permainan gasing memiliki dua cara untuk bermain. Pertama, adalah adu lama berputar, dan kedua adalah menghentikan lawan dengan cara memukul gasing ke gasing lawan yang sedang berputar.

Permainan gasing menurut pendapat pengajar Universitas Jember Dr Ayu Sutarto, juga dipercaya dapat membantu sosialisasi dan pembentukan kepribadian seseorang. Sebab, lanjut Sutarto, struktur dan dinamika dari berbagai bentuk permainan seringkali menggambarkan perilaku, nilai, dan harapan tertentu.

Di samping itu, dalam suatu kebudayaan tertentu, permainan juga menumbuhkan bermacam-macam kontrol sosial. Bagi orang dewasa, permainan dapat difungsikan untuk menjaga kerukunan sosial atau menekan konflik serta ancaman dalam kehidupan bermasyarakat (Zurcher, 1974:38).

Senada dengan pendapat Ayu Sutarto, staf pengajar dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Dra. Mayke S. Tedjasaputra, M.Si, menekankan bahwa permainan gasing sebagai alat permainan mempunyai fungsi majemuk. Karena bisa digunakan untuk bermain; sebagai sarana untuk menyalurkan ide dan kreativitas dengan cata merancang, menciptakan dan membuat gasing; dan sebagai sarana untuk berkompetisi.

Mayke menambahkan, dari sudut psikologi sebagai suatu ilmu, kegiatan bermain (termasuk permainan gasing–Red) mempunyai manfaat untuk perkembangan fisik dan motorik anak, perkembangan kognitif, dan sosial-emosional.

Riwayat Gasing

Gasing telah dikenal secara luas di seluruh pelosok Nusantara. Semua daerah yang ada di wilayah kepulauan Indonesia umumnya memiliki permainan ini. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia yang masyarakatnya multietnik, terdiri dari berbagai suku bangsa mengenal berbagi jenis permainan gasing.

Daerah asal permainan ini dan penyebarannya secara kronologis di wilayah nusantara belum diketahui secara pasti. Data sejarah berupa naskah-naskah kuno maupun data arkeologi, baik artefak maupun non artefak tentang permainan ini belum ditemukan, hingga sulit untuk mengungkap sejarah dan penyebaran permainan gasing di wilayah nusantara secara pasti.

Menurut informasi dari orang-orang tua penggemar permainan ini, permainan gasing di wilayah Pulau Tujuh (Natuna) Propinsi Kepulauan Riau telah ada sejak jaman penjajah Belanda, bahkan jauh sebelum masa itu telah ada. Di wilayah Jawa Barat, permainan ini dikenal sebelum masa kemerdekaan. Sementara di wilayah Sulawesi Utara dikenal sejak tahun 30 an.

Di beberapa daerah Indonesia, permainan ini disebut dengan istilah yang berbeda, seperti permainan Gangsing atau Panggal (Jakarta dan Jawa Barat), permainan Pukang (Lampung) permainan Gasing (Jambi, Bengkulu Tanjungpinang, dan wilayah kepulauan Riau, Sumatra Barat) permainan Begasing (Kalimantan Timur), permainan Megangsing (Bali), permainan Maggasing (Nusatenggara Barat), permainan Apiong (Maluku).

Masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara misalnya, mereka mengenal gasing dengan sebutan Paki. Masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Maggasing atau Agasing (Makasar). Masyarakat Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutnya dengan istilah Gangsingan, dan lain lain.

Permainan ini dapat dimainkan oleh anak-anak, orang dewasa, dan orang tua di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya datar dan keras. Dengan cara memutarkan gasing, yaitu alat permainan dari kayu keras berbentuk bulat lonjong, jantung, piring terbang, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas daerah masing-masing dengan bantuan seutas tali.

Permainan ini dapat dimainkan secara perorangan atau beregu dengan jumlahnya bervariasi, di mana masing-masing daerah berbeda. Demikian pula dengan jenis, bentuk dan ukuran gasing, jenis bahan baku gasing dan aturan permainan gasing dimasing-masing daerah berbeda.

Permaianan Gasing

Secara umum dapat digambarkan bahwa gasing merupakan salah satu alat permainan yang dibuat dari kayu keras dengan bentuk badan bulat, bulat lonjong, jantung, piring terbang (pipih), kerucut, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas kedaerahan dengan ukuran bervariasi, terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki / paksi .

Bagian-bagian gasing tersebut, di setiap daerah Indonesia bervariasi. Ada gasing yang memiliki kepala dan leher, seperti gasing yang dijumpai di Ambon (Apiong). Sementara gasing Jakarta dan Jawa Barat tidak memiliki leher, melainkan hanya kepala. Demikian pula pada gasing Jakarta dan Jawa Barat, tampak secara jelas paksi (taji) yang dibuat dari paku atau logam, sementara pada gasing Natuna (propinsi kepulauan Riau), paksinya tidak tampak.

Pada umumnya gasing dimainkan dengan cara dan urutan sebagai berikut :

1. Pertama-tama si pemain memegang gasing tersebut
pada tangan kiri.

2. Kemudian tangan kanan si pemain melilitkan seutas tali pada gasing dimulai dari bagian paksi hingga bagian badan gasing secara kuat. Sementara dibeberapa wilayah Indonesia, lilitan tali dimulai pada bagian kepala gasing hingga bagian badan.
3. Gasing yang telah dililit tali tersebut, di pindahkan ketangan kanan si pemain, selanjutnya dilempar scara keras kepermukaan tanah yang datar dan Secara umum gasing yang tersebar di wilayah Indonesia, berdasarkan jenisnya dapat dikelompokkan kedalam gasing adu suara, gasing adu putar, dan gasing adu pukul/adu kekuatan (gasing uri/penahan dan gasing pangkak/pemukul).

Diwilayah Jakarta dikenal jenis gasing adu suara yaitu gangsing, dan gasing adu pukul/kekuatan yang disebut panggal.

Keragaman jenis gasing dapat dijumpai pula di wilayah Jawa Barat, meliputi gasing kelangenan (gasing adu suara) dan gasing adu (gasing kolo dan gasing gandek). Sementara di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya (propinsi Kepulauan Riau), dikenal gasing penendin, penahan dan pemangkak. Khusus museum gasing yang terletak di kecamatan Pulau Belakang Padang, Batam hanya dikenal gasing jenis ori (penahan) dan gasing pemangkak atau pengacau.

Di wilayah Riau Daratan, dikenal jenis gasing jantung yang khusus diadu dalam pertandingan dan gasing beralik yang hanya dimainkan untuk hiburan atau hanya dipusingkan (diputar) saja. Di Bali dikenal gasing adu kekuatan, terdiri dari gasing penahan (Belek) dan gasing pemukul (gasing Gebug).

Peralatan pendukung untuk memutar gasing adalah tali yang panjang diameter dan bahan bakunya bervariasi pada setiap wilayah Indonesia, tergantung pada sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya.

Di Tanjungpinang dan wilayah sekitarnya pada umunya tali yang digunakan untuk memutarkan gasing dibuat dari kulit batang pohon Sukak atau kulit pohon Turih Pandan yang dipintal dengan panjang 3 meter untuk gasing penendin dan gasing penahan. Sementara untuk gasing pemangkak digunakan tali sepanjang 1,5 meter.

Di Kalianda, Lampung Selatan, digunakan tali dari kulit batang pohon Kerbang (sejenis pohon yang daunnya seperti daun pohon sukun) yang di pintal sepanjang 1,5 meter untuk memutarkan gasing dalam pertandingan.

Di Jawa Barat, tali yang digunakan untuk memutar gasing pada umumnya dibuat dari bahan kain yang dipintal sepanjang 1 meter.

Arena untuk permainan gasing pada umumnya berupa tanah datar dan keras tidak berdebu dan tidak berumput dengan ukuran arena disetiap daerah di wilayah indonesia bervariasi.

Di Jakarta arena gasing berbentuk lingkaran berdiameter 0,5 - 1 meter. Sementara di Tanjungpinang, arena gasing berbentuk persegi empat berukuran 10 x 10 meter dengan bagian atas arena di beri pasir halus.

Sementara di desa Munduk, kecamatan Banjar (Bali), arena gasing berbentuk persegi berukuran lebih besar dari arena gasing di wilayah Tanjungpinang dengan kondisi tanah agak kental. Arena tersebut dibagi dalam 4 kuadran yang berukuran sama, digunakan oleh masing-masing pemain melepaskan gasing (pemasang atau pemelek) dan memukul gasing (pemangkak).

Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan dan beregu dengan jumlah anggota regu bervariasi pada masing-masing daerah di Indonesia. Di Bali satu regu dapat berjumlah 6 orang atau lebih, sementara di Tanjungpinang 1 regu berjumlah 10 orang atau lebih dan Jakarta 1 regu berjumlah 5 -10 orang. Di Jawa Barat khususnya Pandeglang 1 regu berjumlah 2 - 6 orang dan di Garut 1 regu berjumlah satu orang hingga tak terbatas.

Secara umum permainan gasing dilakukan oleh 2 orang (perorangan) atau 2 regu, terdiri dari laki-laki. Hal ini berkaitan dengan persyaratan permaianan yang memerlukan kemampuan fisik, gerak cepat dan kelincahan. Satu orang atau satu regu dalam permainan ini bertindak sebagai pemukul atau pemangkak.

Sementara regu lain bertindak sebagai penahan atau pemasang. Pemukul (pemangkak) dan penahan ditentukan melalui undian, yaitu dengan mengadu perputaran gasing dari masing-masing perwakilan regu (Bertendin istilah Melayu Natuna).

Sumber : Kompas Online

Topics: Gasing, News, Tradisional, berita, budaya | No Comments »

"Stuck in My Heart," kata Djenar

By eddyprasetyo | June 23, 2008

Dalam film yang berjudul, “Cinta Setaman” besutan Harry Dagoe, Djenar Maesa Ayu (35) kebagian peran jadi pekerja seks komersial (PSK) kelas menengah ke bawah. Karena ingin serius melakoni perannya, novelis nan seksi ini, mengumpulkan banyak data dan informasi tentang sosok PSK.

Meniru bahasa tubuh PSK, jadi tantangan Djenar. Maklum, ibu beranak dua ini biasa tampil tomboy. “Ya iyalah, sehari-hari biasa tomboy, suruh bergenit-genit ria. Berpuluh kali berdiri di depan kaca, aku masih merasa gagal memerankan seorang PSK. Awalnya risih, gitu loch,” ucapnya ketika dihubungi, Minggu (22/6) pukul 23.00.

Ia pun mempelajari perilaku PSK sejak ketemu “mangsa” nya, berbujuk rayu, sampai celetukan-celetukan yang biasanya dilontarkan para PSK untuk memacu gairah kaum hidung belang.

Kebetulan, yang menjadi contoh adalah PSK-PSK asal Banyuwangi yang beroperasi di tempat-tempat hiburan malam, di Bali. Menurut Djenar, ketika para PSK ini di ranjang bersama “mangsa” nya, mereka bersuara dan bertegur sapa meniru film-film porno bajakan.

Maklum, di Bali, para pelanggan mereka lebih banyak bule.Mereka pun harus menguasai bahasa dan ungkapan-ungkapan dalam bahasa Inggris, meski patah-patah dengan logat Jawa Timuran yang masih kental.

Djenar pun menonton video-video porno bajakan yang ditonton para PSK. “Dari ah-ih-uh, sampai puja-puji alat vital teruuuus…stuck in my heart. Hahahahaha…” Djenar tertawa lepas. “Ungkapan bujuk rayunya itu lho. Heboh banget. Stuck in my heart,” tambahnya.

Nah, yang membuat Djenar kaget, para PSK ini tidak lagi menjual cerita sedih atau meratapi nasib buruknya dihadapan para pelanggannya. “Padahal di Jakarta, para pramuria klab-klab malam plus-plus itu, masih seperti dulu, jual kesedihan sama tamu-tamunya. Para PSK Banyuwangi sudah tidak. Hidup mereka mengalir dengan peran yang dilakoninya,” tutur perempuan kelahiran Jakarta 14 Januari 1973 itu.

Selain sibuk dengan film yang ia bintangi, Djenar juga sedang menyiapkan biografi Grup Band Slank, menyambut Ultah Slank ke-25. “Buku tersebut terdiri dari tiga bagian. Aku kebagian nulis seks, drug dan Rock’n Roll-nya Slank, sedang dua bagian lainnya ditulis wartawan musik Rustam dan Denny.MR,” paparnya.

Kesibukan lainnya? “Juli nanti ke India. Film karyaku, ‘Mereka bilang saya monyet’, masuk nominasi lagi,” ucap penulis novel “Naila” itu senang.

Sumber : Kompas Online

Topics: Artis, News, Sinetron, berita, catatan, film | 1 Comment »

Kemenangan Bibit-Rustri Kemenangan Masyarakat Jateng

By eddyprasetyo | June 22, 2008

Semarang (ANTARA News) - Pasangan Bibit Waluyo-Rustriningsih yang unggul sementara dalam penghitungan suara Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah yang digelar Minggu (22/6) merupakan kemenangan masyarakat Jateng.

“Kemenangan Bibit Waluyo-Rustriningsih merupakan kemenangan rakyat Jateng. Masyarakat Jateng tidak salah memilih dari lima pasangan calon gubernur,” kata Ketua DPP PDI Perjuangan, Tjahjo Kumolo, ketika menunggui penghitungan suara di Semarang, Minggu.

Bibit Waluyo-Rustriningsih yang diusung PDIP dalam penghitungan suara sementara mampu mengungguli pasangan cagub lainnya dengan jumlah suara sebesar 44,45 persen.

PDI Perjuangan, katanya, cukup bangga dengan kemenangan Bibit-Rustri karena provinsi ini merupakan basis PDI Perjuangan yang juga basisnya Pancasila sehingga modal bagi partai untuk menyiapkan Pemilu 2009.

Ia menilai, mesin partai PDI Perjuangan telah bekerja optimal, baik di tingkat ranting (desa/kelurahan) maupun PAC di kecamatan dengan dibantu masyarakat dan relawan sehingga mampu memenangkan Bibit-Rustri.

“Kemenangan Bibit-Rustri akan dijadikan pemacu untuk pemilihan gubernur di Jawa Timur, Lampung, dan Bali sehingga mau tidak mau mesin partai harus benar-benar solid. Hal ini wajar karena PDI Perjuangan sebagai partai yang memiliki ideologi nasional harus bisa memenangkan percaturan politik di Indonesia,” kata Tjahjo yang juga Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR RI.

Bibit-Rustri, kata dia, harus memacu dan konsisten untuk membangun Jateng karena di daerah ini masih terdapat angka pengangguran dan kemiskinan yang cukup tinggi sehingga lima tahun ke depan pasangan ini harus berkonsentrasi meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Hasil penghitungan sementara Pilgub Jateng hingga pukul 20.00 WIB, yakni pasangan Bambang-Adnan (Golkar) meraih 22,40 persen, Agus Suyitno-Kholiq Arif (PKB) meraih 12 persen, Sukawi-Sudharto (Demokrat-PKS) meraih 15,75 persen, Bibit Waluyo-Rustriningsih (PDI Perjuangan) meraih 44,45 persen, dan Tamzil-Rozaq (PPP-PAN) meraih 11,25 persen.(*)

Sumber : Antara Online

Topics: Gubernur, Jawa Tengah, News, Pilkada, Semarang, berita | 1 Comment »

Diluncurkan, Perangko Seri Jelang Jakarta

By eddyprasetyo | June 22, 2008

JAKARTA, MINGGU - Pasti ini menjadi informasi yang diburu para kolektor perangko (filatelis). PT Pos Indonesia (Persero) bekerjasama dengan Dirjen Postel meluncurkan seri terakhir dari 3 seri perangko jelang Jakarta.

Tiga seri itu adalah Seri Era Jayakarta (diluncurkan 20 Januari 2008), Seri Era Batavia (diluncurkan 29 Maret 2008) dan Seri Jakarta (diluncurkan tepat di 481 tahun Jakarta, 22 Juni 2008). Direksi PT Pos Indonesia, Arif Supriyono mengatakan, penerbitan 3 seri perangko ini merupakan yang pertama kali dilakukan terhadap satu kota ataupun provinsi di Indonesia.

“Selama ini belum pernah ada penerbitan perangko oleh satu kota atau provinsi sekaligus 3 seri dalam satu tahun. Kita menamakannya seri perangko Jelang Jakarta 2008,” ujar Arif dalam peluncuran seri perangko Jelang Jakarta, di Balairung Balaikota DKI Jakarta, Minggu (22/6).

Peluncuran perangko tersebut ditandai dengan penandatangan seri sampul perangko oleh Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo. Fauzi Bowo menuturkan, “Penerbitan perangko ini memberikan rasa bangga pada Jakarta. Mudah-mudahan kebanggan ini diwujudkan dengan kontribusi yang positif dan lebih besar pada kota Jakarta. Seri perangko Jelang Jakarta ini bercerita tentang perkembangan suatu kota,” kata pria yang akrab disapa Bang Foke ini.

Harga 3 seri perangko itu, per seri Rp25 ribu, dan satu set (terdiri dari 3 seri) dibanderol Rp85 ribu. Masing-masing seri terdiri dari 7 jenis perangko. Penjualan dilakukan diseluruh kantor pos di Indonesia

Sumber : Kompas Online

Topics: Indonesia, Jakarta, News, Perangko, berita | No Comments »


« Previous Entries